no title, just free, fine and danger. Tue, Jan 6 2009


Home  »
just info  »
opinion  »
e-books  »
php scripts  »
design  »
poems  »
just 4 fun  »
cool sites  »
others  »
greetz card  »
nonton TV  »
random img  »
Updated 20 02 2008
add articles «
change download «
and more«
Pease contact me, if you have found missing link or invalid link.
Site Meter
 
Fitna, Islamophobia atau Kebodohan Pembuatnya?
POSTED 04 02 08
Fitna, Islamophobia atau Kebodohan Pembuatnya?
Ah, lagi-lagi saya menemukan kepicikan berfikir dari orang-orang yang katanya berfikir intelek dan bebas. Adalah bentuk kelakuan usang dengan munculnya film pendek Fitna (Kalau boleh disebut film, karena hanya berisi cuplikan-cuplikan sampah selama kurang lebih 16 menit yang dikemas sedemikian rupa sebagai usaha pembenaran sebuah fakta yang begitu terarah atau lebih tepatnya memojokkan, yang tanpa ulasan, studi, serta fakta yang konkret bagi semua pihak yang terlibat jika ingin dijadikan konsumsi publik).

Mengambil istilah dari buku Abrahamic Faiths karangan Jerald Dirks sudah menjadi cerita lama banyak terjadi islamophobia di negara barat. Sering kita baca dan saksikan wajah seram Islam yang mereka expose dan kadang dengan bahasa ironi dari berbagai peristiwa yang terjadi seolah mewakili Islam secara keseluruhan. Sebuah bentuk yang bagi siapa pun yang berfikir dan mengkaji lebih seakan bentuk ketakutan yang tak beralasan akan wajah Islam.

Film Fitna ini dimulai dengan menampilkan karikatur Nabi Muhammad yang dulu sempat heboh, yang digambarkan sosok wajah bengis dengan sorban kepala berbentuk bom yang akan meledak seiring berjalannya film tersebut. Dengan awal film yang seperti itu, siapapun orang yang berfikir jernih bisa menebak dan merasakan kalau film tersebut jelas tidak memberikan niatan baik dari informasi yang ingin disajikan. Kita bisa berfikir dan menelaah, penghujatan dan penghinaan yang dilakukan untuk membenarkan suatu keadaan bukankah malah terkesan bodoh, menyerabut dari inti yang ingin disampaikan. Tentu kita bisa membedakan sebuah kritik dan penghinaan. Toleransi makna dan tujuan yang dikandung atas dua kata tersebut juga berbeda.

Film Fitna masih memakai cara lama yang digunakan barat untuk membuat kaitan atas peristiwa yang terjadi dengan "perintah" bagi kaum muslim yang termaktub didalam Al-Quran, yang dimaknakan dengan mentah dan hanya secara text. Kaum muslim tentu tahu bahwa tidak bisa mengambil satu hikmah yang dikandung di tiap ayat Al-Quran dengan sepenggal-sepenggal. Untuk memahami makna yang terkandung didalamnya tentu kita perlu tahu sejarah ayat itu turun, kapan ayat itu turun, kenapa ayat itu diturunkan dan masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk menarik makna ditiap ayat dalam Al-Quran. Karen Amstrong dalam buku Sejarah Tuhan-nya saja bisa menjelaskan, "Alquran selalu menekankan perlunya penggunaan akal dalam mengurai 'tanda' atau 'pesan' dari Tuhan ..." "orang barat memandang al-quran sebagai kitab yang sulit, dan ini terutama berkaitan dengan masalah penerjemahan. Bahasa arab memang sulit dan terasa janggal ketika diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, misalnya, dan lebih-lebih karena al-quran yang memiliki gaya bahasa padat, penuh kiasan, dan ungkapan-ungkapan yang tidak langsung ...". Diakui atau pun tidak umat Islam sendiri kadang terjebak dalam pemaknaan secara text atas Al-Quran.

Film Fitna menggunakan grafik perkembangan Islam di Amsterdam dan Eropa yang pesat tiap tahun kemudian disusul dengan penayangan potret seram Islam (mungkin lebih tepatnya potret seram kaum fundamental) dalam terosisme, eksekusi, perlakuan wanita dan beberapa hal yang selalu diulang dunia barat di berbagai media, tempat dan kesempatan yang seolah tidak ada cara lain yang lebih membumi dan bagus selain hanya mengangkat segelintir topik, menepis alasan, kebenaran dan keterkaitan peristiwa dengan hanya mengambil kesimpulan yang ada dengan mengatasnamakan Islam. Setelah penayangan potret seram tersebut kemudian diakhiri bentuk pertanyaan yang intinya akankah dunia pada umumnya, Eropa dan Amsterdam pada khususnya akan seperti yang digambarkan sebelumnya? Wah saya pun akhirnya menyimpulkan, kemungkinan besar pembuat film ini tidak pernah membaca sejarah, dan benar-benar film ini bukan untuk membuat yang menyaksikan menjadi berfikir dan semakin cerdas melihat kedepan. Akhir kata, film Fitna cukup menjanjikan untuk menjadi sampah basi yang fenomenal, sangat bisa membahayakan siapa saja yang terpengaruh olehnya. Fitna, jelas hanya fitnah!


Add Comment?
Name : *

Email : *

Comment : *
AntiSpam Code:
Enter AntiSpam Code: *


© 2006 by Arie